Saturday, April 13, 2013

Quote For The Day

Kecantikan Sejati Bukanlah Dari Apa Yang Mereka Kenakan
Kecantikan Sejati Berasal Dari Hati Yang Tulus Dalam Berbuat Sesuatu

Quote For The Day

Ketahuilah Pengalaman Itu Adalah Guru Yang Tak Ternilai Harganya

Friday, April 12, 2013

Quote For The Day

Tak ada yang perlu ditakuti untuk menaklukkan dunia
Be yourself

MATAHARI

Hujan semakin lama semakin deras. Aku yang sedang asik berjalan menuju rumah tiba-tiba dikejutkan oleh guyuran hujan. Seketika itu juga aku berlari mencari perlindungan. Aku menemukan sebuah gubuk yang cukup untuk membuatku aman dari hujan.
Hari yang panas seketika menjadi dingin. Bajuku sudah basah terkena hujan yang datang tanpa menyapa terlebih dahulu. Aku hanya bisa mengusap-usap kedua tangan berusaha menghangatkan badanku.
Aku tersenyum kecil melihat hujan kali ini. Suatu kenangan seketika melintas dipikaranku. Kenangan indah yang terkadang membuat hati sedih dan merindu. Ingin kumemutar waktu. Ingin kumengulang kejadian yang membuatku sering salah tingkah.
Kejadiannya enam tahun silam. Saat itu aku masih duduk dibangku SD. Aku dan kedua sahabatku sedang asik menyusuri perumahan. Kami tertawa, bernyanyi, dan bermain bersama setiap harinya. Tak jarang kami mengalami petualangan-petualangan seru
Kami mempunyai tempat rahasia. Tempatnya didekat sawah yang tak jauh dari rumahku. Kami memberi nama tempat tersebut dengan nama “Matahari Secret Place”. Matahari sendiri diambil dari nama kami bertiga yaitu Maudy, Tania, dan Hariana atau Ana. Selain itu Matahari juga memiliki makna tersendiri. Matahari adalah sumber energi bagi bumi. Semua kehidupan dibumi sangat bergantung dengan Matahari. Kami juga ingin menjadi pengubah dunia. Tapi kami tak ingin disembah.
Setelah pulang sekolah, kami merencanakan apa saja yang akan dilakukan sore ini. Mulai dari merencanakan petualangan baru hingga nanti saat kami selesai dengan petualangan kami.
“Kita ngapain ya sore ini?” tanya Ana.
“Hm.. Apa ya?” aku mengerutkan kening.
“Bagaimana kalau kita sore ini ngobrol-ngobrol aja?” sahut Tania.
“Boleh juga. Tapi, apakah nanti tidak akan bosan?” tanyaku ragu.
“Aku lagi malas nih, Maudy.”
“Ya sudah, kutunggu di rumahku nanti sore. Setelah itu kita berangkat menuju Matahari, bagaimana?”
“SETUJU!” jawab Tania dan Ana serempak.
Kami melanjukan perjalanan. Tak ada satupun langkah yang tak diiringin alunan nyanyian kami. Kami begitu bahagia seakan tak pernah ada masalah dalam persahabatan kami. Ya itulah kami Matahari yang selalu memancarkan cahayanya setiap saat.
Jam menunjukkan pukul empat sore. Aku menunggu Tania dan Ana di ruang tamu. Tumben sekali mereka terlambat. Biasanya jam tiga sudah datang kerumahku.
Lima belas menit kemudian mereka datang. Aku segera mengeluarkan sepeda lalu mengendarainya menuju tempat rahasia kami.
“Mengapa kalian lama sekali?” tanyaku sambil terus mengendarai sepeda.
“Itu salahku. Tadi aku harus menemani kakakku membeli kain. Ibuku sedang banyak pesanan,” jawab Ana.
“Oh, tak apa. Yang penting sekarang kita bisa bermain.”
Sesampainya di Matahari Secret Place, kami langsung menggelar tikar yang kami bawa. Kemudian kami menata makanan diatar karpet tersebut. Sudah seperti piknik saja kami kali ini. Setelah semuanya selesai, kami bersantai-santai sambil mengobrol menghabiskan waktu yang tersisa.
“Aku seneng banget punya sahabat seperti kalian,” Kata Ana.
“Iya, aku juga senang,” Tania menimpali.
“Aku takut kita ga bisa sama-sama lagi.”
“Kenapa kamu ngomong gitu?” Tanyaku yang terkejut dengan perkataan Ana.
“Coba bayangin. Nanti kita pasti hidup sendiri-sendiri. Kita semakin dewasa tak mungkin selamanya bisa seperti ini.”
“Bener juga kamu, Na. Bayangin kita nanti Hidup dengan dunia kita masing-masing. Terus...”
“Sudah-sudah, apasih yang kalian bicarakan!” aku memotong pembicaraan Tania.
Hari semakin sore. Kami memutruskan untuk pulang. Sebelumnya kami membersihkan bekas makanan yang beserakan dimana-mana. Kemudian kami menaiki sepeda masing-masing dan mengendarainya menuju jalan pulang.
Tumben sekali selama perjalanan pulang tak ada sepatah katapun keluar dari bibir kami. Semua tampak sedang tak ingin  bernyanyi atau mengobrol. Mungkin karena terlalu lelah, aku berusaha berfikir positif.
Kami berpisah dalam perjalanan pulang. Hanya rumahku yang berbeda arah dengan mereka. Aku melambaikan tangan mengucapkan tanda perpisahan untuk hari ini. Mereka membalas dengan lambaian tangan dan senyuman manis.
Aku tiba di rumah. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Untung saja aku tepat waktu jadi aku tidak kehujanan. Aku memasuki rumah. Karena udara yang dingin, aku memutuskan untuk membuat secangkir teh hangat untuk menghangatkanku.
Aku duduk di ruang keluarga. Tampak ibu sedang menonton acara favoritnya, sedangkan ayah sedang membaca koran diruang tamu. Aku anak tunggal jadi tak ada yang bisa diajak untuk bermain.
Telepon rumah berbunyi. Ibu beranjak untuk mengangkat telepon tersebut. Terdengar percakapan yang sangat serius. Aku berusaha tak mendengarkan karena tidak baik bagi seorang anak mengetahui masalah orang dewasa.
Setelah menutup telepon, ibu berjalan menuju ruang tamu menghampiri ayah. Aku yang semula biasa saja menjadi penasaran. Bagaimana tidak? Ibu dan ayah jarang sekali berbicara dengan berbisik seperti ini. Aku melihat ibu dan ayah dengan penuh harap. Siapa tahu aku akan mengetahuinya.
Tapi usahaku sia-sia. Aku hanya melihat ayah melirik sedikit kearahku kemudian dia menggeleng kecil. Aku sudah tau maksud ayah. Dia tidak mengizinkan ibu untuk memberitahuku apa yang sedang terjadi. Aku sedikit kecewa dengan hal tersebut. Tapi tak apalah, lagi pula itu urusan orang tua.
Malam pun tiba, setelah belajar aku bersiap untuk tidur. Kali ini aku ingin tidur lebih awal agar besok bisa bangun lebih awal karena besok adalah giliranku untuk piket kelas. Aku menyusun buku yang akan kubawa besok lalu aku menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi. Kemudian aku membaringkan badanku keranjang. Tak sampai sepuluh menit aku sudah terlelap.
Keesokan harinya, tepat pukul lima lewat tiga puluh aku terbangun. Segera kuberanjak dari ranjang lalu menuju kamar mandi. Seusai mandi aku berdandan kemudian aku menuju dapur untuk sarapan. Kulihat ibu sudah membuatkan sarapan untukku.
“Hari ini kamu tidak usah sekolah ya, nak,” kata ibu sambil menyuguhkan segelas susu.
“Mengapa, bu?”
“Nanti ibu kasih tahu. Sekarang selesaikan sarapanmu kemudian ganti pakaianmu. Ibu akan menyiapkan pakaian yang akan kamu kenakan.”
Ibu tampak lemas ketika berbicara denganku. Apakah ibu sedang tidak enak badan? Tapi nanti sajalah aku tanyakan. Aku akan menghabiskan sarapan buatan ibu dulu.
“Ibu aku sudah siap,” kataku sambil mengenakan sepatu.
“Sebentar, Maudy!”
Tumben sekali ibu menyiapkan baju abu-abu. Baju ini jarang sekali kupakai karena waktu itu masih terlalu besar. Lagi pula ibu juga tidak suka warnanya. Kata ibu sih terlalu norak. Padahal menurutku bagus-bagus saja.
Aku memasukki mobil. Ternyata ayah sudah menunggu didalam mobil. Tak berapa lama kemudian ibu masuk. Mobil pun mulai melaju perlahan meninggalkan rumah.
“Kita mau kemana sih, bu?” tanyaku yang sedari tadi bingung.
“Kita mau ke rumah sakit,” jawab ibu pelan.
“Siapa yang sakit memang, bu?”
“Ayah bisa berhenti sebentar?” ibu berbicara kepadaku.
Ayah memberhentikan mobil. Ibu keluar lalu masuk kembali dibangku belakang tempat dimana aku duduk. Kemudian mobil mulai berjalan kembali.
“Begini, ibu mendapat telepon tadi malam dari keluarga Tania dan Ana. Mereka mengalami kecelakan saat perjalanan menuju rumah kemarin sore.”
“Bagamana keadaan mereka sekarang, bu?” tanyaku mulai khawatir.
“Ana kritis dan Tania tak sadarkan diri hingga sekarang.”
Seketika itu juga air mataku mengalir deras. Ibu memelukku, berusaha membuatku tenang. Aku membalas pelukan ibu dengan erat. Aku sangat takut akan kehingan sahabat-sahabat terbaikku.
Setelah tiba di rumah sakit, aku dan ibu langsung menuju kamar tempat Ana dirawat. Ibu tak melepaskan genggaman tanganku. Aku sebenarnya ingin melepaskan tangan ibu dariku tapi ibu melarang. Dia tahu bahwa aku masih terkejut atas berita tadi.
Kami memasuki ruangan dimana Ana dirawat. Selang dimana-mana. Aku tak tahan melihatnya. Aku ingin menggoyangkan badannya. Aku ingin membuatnya terbangun dan tertawa lagi seperti kemarin sore. Tapi kenyataannya aku tak sanggup. Air mata berlinang deras mengalir dipipiku. Aku hanya bisa memegang tangannya yang lembut.
Setelah itu aku menuju ruang dimana Tania dirawat. Kulihat tubuh yang terbaring kaku diatas ranjang rumah sakit. Tidak ada selang sama sekali disini. Hanya selang yang digunakan untuk membatu pernapasannya. Tania terbujur membisu diranjang. Lagi-lagi aku tak dapat melakukan apa.
Aku memegang tangannya. Aku usapkan dipipiku. Kuingat kejadian-kejadian seru bersamanya yang tak akan kulupakan. Sisaat kami tertawa, kami menangis, kami bertengkar, disaat yang penuh dengan kasih sayang antar sahabat.
Tiba-tiba mesin yang berada disebelah Tania bebunyi. Bunyi berbeda dengan yang sebelumnya. Aku ditarik orang tuaku menjauh dari Tania. Aku sangat tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kulihat ibu Tania menangis histeris ketika melihat kejadian itu. dia juga dibawa oleh suaminya keluar ruangan.
Ibu memelukku dengan erat. Aku hanya bisa terdiam. Tak lama kemudian seorang dokter keluar lalu berjalan mendekati orang tua Tania. Dia hanya bisa menggelengkan kepala. Seketika itu juga ibu Tania menjerit kemudian tak sadarkan diri. Apa yang terjadi dengan Tania?
“Maudy, ternyata Tuhan terlalu sayang dengan Tania. Jadi Tuhan membawa Tania untuk menemaninya di surga,” ibu menjelaskan dengan terbata-bata.
“Maksud, ibu?”
“Tania sudah tidak ada, nak.”
Tania sudah tidak ada? Tania yang periang kini telah hilang? Aku tidak percaya. Matahari tidak akan lengkap tanpa dia. Aku mau Tania yang dulu kembali. Aku tak ingin semua terjadi. Coba saja kami pulang lebih cepat, mungkin hujan deras yang membuat mereka calaka bisa dihindari.
Aku memeluk ibu dengan erat air mataku mengalir sangat deras. Aku membasahi baju ibu. Ibu membalas pelukkanku. Ibu terus berusaha membuatku tenang. Tangisanku mulai terdengar.
“Sudah, jangan ditangisi. Kasihan Tania disana. Tania sudah bahagia,” ibu terus mengulangi kata-kata itu.
Sore harinya Tania dimakamkan. Aku melihat Tania yang cantik mulai tertutup oleh tanah. Aku merasa keceriaan Tania akan hilang begitu saja. Aku merasa aku akan sendirian didunia. Ingin sekali aku ikut denganmu Tania.
Tiga hari setelah pemakaman Tania, Ana akhirnya sadar. Tapi dia kehilangan penglihatannya dan dia sangat tertekan dengan apa yang menimpanya. Walaupun secara fisik tubuhnya semakin sehat, tetapi setiap hari mentalnya semakin terganggu. Karena hal tersebut Ana dibawa keluar negri untuk menjalani terapi.
Tanpa sadar hujan sudah berhenti. Aku kembali tersenyum melihat pelangi yang indah menghiasi langit dan  matahari yang mulai menampakkan dirinya. Rasa dingin yang kurasakan sedari tadi mulai menghilang.
Aku beranjak lalu melanjutkan perjalananku. Tapi kali ini aku tak langsung menuju rumah. Aku menuju tempat rahasia kami. Kutelusuri jalan dengan senyuman. Semua kujalani seperti tak ada beban.
Akhirnya aku tiba ditempat rahasia kami. Tak ada yang berubah dari tempat ini. Masih sama seperti terakhir kali aku, Tania, dan Ana berkumpul. Aku merasa Matahari Kembali berkumpul. Aku merasa semangat kami masih ada. Aku merasa Tania, dan Ana ada disini menemaniku.
Persahabatan kami tak seperti pelangi, walaupun indah tapi hanya sesaat. Atau seperti bunga mawar, indah tapi menyimpan duri. Tetapi persahabatan kami seperti matahari, matahari yang menghangatkan satu dengan yang lain.