Hujan semakin lama semakin deras. Aku
yang sedang asik berjalan menuju rumah tiba-tiba dikejutkan oleh guyuran hujan.
Seketika itu juga aku berlari mencari perlindungan. Aku menemukan sebuah gubuk
yang cukup untuk membuatku aman dari hujan.
Hari yang panas seketika menjadi dingin.
Bajuku sudah basah terkena hujan yang datang tanpa menyapa terlebih dahulu. Aku
hanya bisa mengusap-usap kedua tangan berusaha menghangatkan badanku.
Aku tersenyum kecil melihat hujan kali
ini. Suatu kenangan seketika melintas dipikaranku. Kenangan indah yang
terkadang membuat hati sedih dan merindu. Ingin kumemutar waktu. Ingin
kumengulang kejadian yang membuatku sering salah tingkah.
Kejadiannya enam tahun silam. Saat itu
aku masih duduk dibangku SD. Aku dan kedua sahabatku sedang asik menyusuri
perumahan. Kami tertawa, bernyanyi, dan bermain bersama setiap harinya. Tak
jarang kami mengalami petualangan-petualangan seru
Kami mempunyai tempat rahasia. Tempatnya
didekat sawah yang tak jauh dari rumahku. Kami memberi nama tempat tersebut
dengan nama “Matahari Secret Place”. Matahari sendiri diambil dari nama kami
bertiga yaitu Maudy, Tania, dan Hariana atau Ana. Selain itu Matahari juga
memiliki makna tersendiri. Matahari adalah sumber energi bagi bumi. Semua
kehidupan dibumi sangat bergantung dengan Matahari. Kami juga ingin menjadi
pengubah dunia. Tapi kami tak ingin disembah.
Setelah pulang sekolah, kami
merencanakan apa saja yang akan dilakukan sore ini. Mulai dari merencanakan
petualangan baru hingga nanti saat kami selesai dengan petualangan kami.
“Kita ngapain ya sore ini?” tanya Ana.
“Hm.. Apa ya?” aku mengerutkan kening.
“Bagaimana kalau kita sore ini
ngobrol-ngobrol aja?” sahut Tania.
“Boleh juga. Tapi, apakah nanti tidak
akan bosan?” tanyaku ragu.
“Aku lagi malas nih, Maudy.”
“Ya sudah, kutunggu di rumahku nanti
sore. Setelah itu kita berangkat menuju Matahari, bagaimana?”
“SETUJU!” jawab Tania dan Ana serempak.
Kami melanjukan perjalanan. Tak ada
satupun langkah yang tak diiringin alunan nyanyian kami. Kami begitu bahagia
seakan tak pernah ada masalah dalam persahabatan kami. Ya itulah kami Matahari
yang selalu memancarkan cahayanya setiap saat.
Jam menunjukkan pukul empat sore. Aku
menunggu Tania dan Ana di ruang tamu. Tumben sekali mereka terlambat. Biasanya
jam tiga sudah datang kerumahku.
Lima belas menit kemudian mereka datang.
Aku segera mengeluarkan sepeda lalu mengendarainya menuju tempat rahasia kami.
“Mengapa kalian lama sekali?” tanyaku
sambil terus mengendarai sepeda.
“Itu salahku. Tadi aku harus menemani
kakakku membeli kain. Ibuku sedang banyak pesanan,” jawab Ana.
“Oh, tak apa. Yang penting sekarang kita
bisa bermain.”
Sesampainya di Matahari Secret Place,
kami langsung menggelar tikar yang kami bawa. Kemudian kami menata makanan
diatar karpet tersebut. Sudah seperti piknik saja kami kali ini. Setelah
semuanya selesai, kami bersantai-santai sambil mengobrol menghabiskan waktu
yang tersisa.
“Aku seneng banget punya sahabat seperti
kalian,” Kata Ana.
“Iya, aku juga senang,” Tania menimpali.
“Aku takut kita ga bisa sama-sama lagi.”
“Kenapa kamu ngomong gitu?” Tanyaku yang
terkejut dengan perkataan Ana.
“Coba bayangin. Nanti kita pasti hidup
sendiri-sendiri. Kita semakin dewasa tak mungkin selamanya bisa seperti ini.”
“Bener juga kamu, Na. Bayangin kita
nanti Hidup dengan dunia kita masing-masing. Terus...”
“Sudah-sudah, apasih yang kalian
bicarakan!” aku memotong pembicaraan Tania.
Hari semakin sore. Kami memutruskan
untuk pulang. Sebelumnya kami membersihkan bekas makanan yang beserakan
dimana-mana. Kemudian kami menaiki sepeda masing-masing dan mengendarainya
menuju jalan pulang.
Tumben sekali selama perjalanan pulang
tak ada sepatah katapun keluar dari bibir kami. Semua tampak sedang tak
ingin bernyanyi atau mengobrol. Mungkin
karena terlalu lelah, aku berusaha berfikir positif.
Kami berpisah dalam perjalanan pulang.
Hanya rumahku yang berbeda arah dengan mereka. Aku melambaikan tangan
mengucapkan tanda perpisahan untuk hari ini. Mereka membalas dengan lambaian
tangan dan senyuman manis.
Aku tiba di rumah. Tiba-tiba hujan turun
dengan derasnya. Untung saja aku tepat waktu jadi aku tidak kehujanan. Aku
memasuki rumah. Karena udara yang dingin, aku memutuskan untuk membuat
secangkir teh hangat untuk menghangatkanku.
Aku duduk di ruang keluarga. Tampak ibu sedang
menonton acara favoritnya, sedangkan ayah sedang membaca koran diruang tamu.
Aku anak tunggal jadi tak ada yang bisa diajak untuk bermain.
Telepon rumah berbunyi. Ibu beranjak
untuk mengangkat telepon tersebut. Terdengar percakapan yang sangat serius. Aku
berusaha tak mendengarkan karena tidak baik bagi seorang anak mengetahui
masalah orang dewasa.
Setelah menutup telepon, ibu berjalan
menuju ruang tamu menghampiri ayah. Aku yang semula biasa saja menjadi
penasaran. Bagaimana tidak? Ibu dan ayah jarang sekali berbicara dengan
berbisik seperti ini. Aku melihat ibu dan ayah dengan penuh harap. Siapa tahu
aku akan mengetahuinya.
Tapi usahaku sia-sia. Aku hanya melihat
ayah melirik sedikit kearahku kemudian dia menggeleng kecil. Aku sudah tau
maksud ayah. Dia tidak mengizinkan ibu untuk memberitahuku apa yang sedang
terjadi. Aku sedikit kecewa dengan hal tersebut. Tapi tak apalah, lagi pula itu
urusan orang tua.
Malam pun tiba, setelah belajar aku
bersiap untuk tidur. Kali ini aku ingin tidur lebih awal agar besok bisa bangun
lebih awal karena besok adalah giliranku untuk piket kelas. Aku menyusun buku
yang akan kubawa besok lalu aku menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan
menyikat gigi. Kemudian aku membaringkan badanku keranjang. Tak sampai sepuluh
menit aku sudah terlelap.
Keesokan harinya, tepat pukul lima lewat
tiga puluh aku terbangun. Segera kuberanjak dari ranjang lalu menuju kamar
mandi. Seusai mandi aku berdandan kemudian aku menuju dapur untuk sarapan.
Kulihat ibu sudah membuatkan sarapan untukku.
“Hari ini kamu tidak usah sekolah ya,
nak,” kata ibu sambil menyuguhkan segelas susu.
“Mengapa, bu?”
“Nanti ibu kasih tahu. Sekarang
selesaikan sarapanmu kemudian ganti pakaianmu. Ibu akan menyiapkan pakaian yang
akan kamu kenakan.”
Ibu tampak lemas ketika berbicara
denganku. Apakah ibu sedang tidak enak badan? Tapi nanti sajalah aku tanyakan.
Aku akan menghabiskan sarapan buatan ibu dulu.
“Ibu aku sudah siap,” kataku sambil
mengenakan sepatu.
“Sebentar, Maudy!”
Tumben sekali ibu menyiapkan baju
abu-abu. Baju ini jarang sekali kupakai karena waktu itu masih terlalu besar.
Lagi pula ibu juga tidak suka warnanya. Kata ibu sih terlalu norak. Padahal
menurutku bagus-bagus saja.
Aku memasukki mobil. Ternyata ayah sudah
menunggu didalam mobil. Tak berapa lama kemudian ibu masuk. Mobil pun mulai
melaju perlahan meninggalkan rumah.
“Kita mau kemana sih, bu?” tanyaku yang
sedari tadi bingung.
“Kita mau ke rumah sakit,” jawab ibu
pelan.
“Siapa yang sakit memang, bu?”
“Ayah bisa berhenti sebentar?” ibu
berbicara kepadaku.
Ayah memberhentikan mobil. Ibu keluar
lalu masuk kembali dibangku belakang tempat dimana aku duduk. Kemudian mobil
mulai berjalan kembali.
“Begini, ibu mendapat telepon tadi malam
dari keluarga Tania dan Ana. Mereka mengalami kecelakan saat perjalanan menuju
rumah kemarin sore.”
“Bagamana keadaan mereka sekarang, bu?”
tanyaku mulai khawatir.
“Ana kritis dan Tania tak sadarkan diri
hingga sekarang.”
Seketika itu juga air mataku mengalir
deras. Ibu memelukku, berusaha membuatku tenang. Aku membalas pelukan ibu
dengan erat. Aku sangat takut akan kehingan sahabat-sahabat terbaikku.
Setelah tiba di rumah sakit, aku dan ibu
langsung menuju kamar tempat Ana dirawat. Ibu tak melepaskan genggaman
tanganku. Aku sebenarnya ingin melepaskan tangan ibu dariku tapi ibu melarang.
Dia tahu bahwa aku masih terkejut atas berita tadi.
Kami memasuki ruangan dimana Ana
dirawat. Selang dimana-mana. Aku tak tahan melihatnya. Aku ingin menggoyangkan
badannya. Aku ingin membuatnya terbangun dan tertawa lagi seperti kemarin sore.
Tapi kenyataannya aku tak sanggup. Air mata berlinang deras mengalir dipipiku.
Aku hanya bisa memegang tangannya yang lembut.
Setelah itu aku menuju ruang dimana
Tania dirawat. Kulihat tubuh yang terbaring kaku diatas ranjang rumah sakit.
Tidak ada selang sama sekali disini. Hanya selang yang digunakan untuk membatu
pernapasannya. Tania terbujur membisu diranjang. Lagi-lagi aku tak dapat
melakukan apa.
Aku memegang tangannya. Aku usapkan
dipipiku. Kuingat kejadian-kejadian seru bersamanya yang tak akan kulupakan.
Sisaat kami tertawa, kami menangis, kami bertengkar, disaat yang penuh dengan
kasih sayang antar sahabat.
Tiba-tiba mesin yang berada disebelah
Tania bebunyi. Bunyi berbeda dengan yang sebelumnya. Aku ditarik orang tuaku
menjauh dari Tania. Aku sangat tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Kulihat ibu Tania menangis histeris ketika melihat kejadian itu. dia juga
dibawa oleh suaminya keluar ruangan.
Ibu memelukku dengan erat. Aku hanya
bisa terdiam. Tak lama kemudian seorang dokter keluar lalu berjalan mendekati
orang tua Tania. Dia hanya bisa menggelengkan kepala. Seketika itu juga ibu
Tania menjerit kemudian tak sadarkan diri. Apa yang terjadi dengan Tania?
“Maudy, ternyata Tuhan terlalu sayang
dengan Tania. Jadi Tuhan membawa Tania untuk menemaninya di surga,” ibu
menjelaskan dengan terbata-bata.
“Maksud, ibu?”
“Tania sudah tidak ada, nak.”
Tania sudah tidak ada? Tania yang
periang kini telah hilang? Aku tidak percaya. Matahari tidak akan lengkap tanpa
dia. Aku mau Tania yang dulu kembali. Aku tak ingin semua terjadi. Coba saja
kami pulang lebih cepat, mungkin hujan deras yang membuat mereka calaka bisa
dihindari.
Aku memeluk ibu dengan erat air mataku
mengalir sangat deras. Aku membasahi baju ibu. Ibu membalas pelukkanku. Ibu
terus berusaha membuatku tenang. Tangisanku mulai terdengar.
“Sudah, jangan ditangisi. Kasihan Tania
disana. Tania sudah bahagia,” ibu terus mengulangi kata-kata itu.
Sore harinya Tania dimakamkan. Aku
melihat Tania yang cantik mulai tertutup oleh tanah. Aku merasa keceriaan Tania
akan hilang begitu saja. Aku merasa aku akan sendirian didunia. Ingin sekali
aku ikut denganmu Tania.
Tiga hari setelah pemakaman Tania, Ana
akhirnya sadar. Tapi dia kehilangan penglihatannya dan dia sangat tertekan
dengan apa yang menimpanya. Walaupun secara fisik tubuhnya semakin sehat,
tetapi setiap hari mentalnya semakin terganggu. Karena hal tersebut Ana dibawa
keluar negri untuk menjalani terapi.
Tanpa sadar hujan sudah berhenti. Aku
kembali tersenyum melihat pelangi yang indah menghiasi langit dan matahari yang mulai menampakkan dirinya. Rasa
dingin yang kurasakan sedari tadi mulai menghilang.
Aku beranjak lalu melanjutkan
perjalananku. Tapi kali ini aku tak langsung menuju rumah. Aku menuju tempat
rahasia kami. Kutelusuri jalan dengan senyuman. Semua kujalani seperti tak ada
beban.
Akhirnya aku tiba ditempat rahasia kami.
Tak ada yang berubah dari tempat ini. Masih sama seperti terakhir kali aku,
Tania, dan Ana berkumpul. Aku merasa Matahari Kembali berkumpul. Aku merasa
semangat kami masih ada. Aku merasa Tania, dan Ana ada disini menemaniku.
Persahabatan kami tak seperti pelangi,
walaupun indah tapi hanya sesaat. Atau seperti bunga mawar, indah tapi
menyimpan duri. Tetapi persahabatan kami seperti matahari, matahari yang
menghangatkan satu dengan yang lain.
No comments:
Post a Comment